balada si kancil

December 24th, 2007

anak ayam

Posted by ceritasianakkancil in Uncategorized

anak ayam hampiri telur. dan menaruh sayap ringkihnya untuk menghangatkan telur
dia sering mendengar keluh kesah telur, dia tau bagaimana rasanya terkurung dalam kulit lunak untuk jangka waktu tertentu
“aku tau menjadi kamu, karena aku pernah menjadi telur”
“lalu bagaimana caranya aku keluar?”
“nanti ada saatnya kamu akan keluar, bersabarlah. tapi jika kamu tidak kuat, berbicarahlah padaku. karena sebelumnya tidak pernah ada yang mau menemaniku seperti aku menemanimu”
“anak ayam, kau sungguh baik!!”

pembicaraan yang dilakukan diantara para itik tentu tidak dimengerti oleh mereka. dan para itik melihat dengan sinis, dan mengajak anak ayam untuk menjadi seperti mereka. ditolak? tentu tidak. karena jauh didalam lubuk hatinya menjdi itik adalah impiannya

“anak ayam..oh anak ayam…dimana dirimu???”
“anak ayam???” dan telur merasa bahwa tidak pernah ada anak ayam yang seperti “anak ayam”

December 6th, 2007

pesan untuk anda

Posted by ceritasianakkancil in Uncategorized

katakan saja suka jika memang suka. mengapa harus disembunyikan dari dunia?
katakan rindu jika memang rindu. mengapa harus terpaksa tersenyum didepan orang lain?
nyamankah anda pada keadaan yang seperti ini? saat hati dan suara tidak menjadi hal yang bulat. saat hati ingin berteriak dan mulut hanya terperintahkan diam?
apa perasaan seperti itu harus dipedam? lalu mau sampai kapan?
tidak mau munafik bahwa berkata2 dapat membawa perubahan yang signifikan, tetapi manusia adalah manusia yang bergerak dengan nurani dan hati.
maka saat anda tidak bergerak tanpa hati dan anda bukanlah manusia
jangan takut pada dunia, takutlah pada diri anda yang tidak berani menyatakan apa yang anda rasakan.

December 4th, 2007

menatap di setiap sudut bangunan

Posted by ceritasianakkancil in Uncategorized

menatap di setiap sudut bangunan, tak berani memandang keindahan yang diciptakan oleh tuhan yang agung dengan mata kosong
hanya berani menggapai bayangannya, tanpa pernah menyentuh raganya
meperhatikan gerak geriknya tanpa ekspresi yang sesungguhnya nyata dalam sini
cintaku hanya pada bayangan, aura, nafas, bau tubuh
tanpa embel-embel mengharapkan apapun
kata burung, dia sudah terlalu penuh didalam.
tidak ada ruang untuk keledai pasif yang berharap.
maka hanya bisa diam disini, menatap objek yang silau benderang